nasional

Jaletreng Riverpak, Bisakah Kita Menaruh Hati?

Selasa, 10 September 2019 | 13:59 WIB

#Sosok - Atas undangan kawan-kawan Sekber Jaletreng, minggu lalu saya mendapatkan kehormatan sekaligus pengalaman berharga untuk mengarungi susur Jaletreng.

Saya memulai perjalanan dari Setu, melewati area belakang Taman Tekno, dan berakhir di Taman Kota II, tepat di tepian sebuah danau kecil yang kini dijadikan tempat wisata dengan nama Jaletreng Riverpark.

Sekretariat Bersama atau Sekber ini digerakkan oleh anak-anak muda yang gelisah melihat sungai di kampung mereka dikotori sampah dan limbah. Padahal sungai itu merekam memori masa kecil mereka yang indah.

Berbekal semangat tinggi, juga panggilan hati untuk menjaga lingkungan kampung mereka, sekelompok anak muda ini nekad membuka jalur dari Bogor ke Setu, bahkan jauh hingga ke belakang de Latinos dan The Green BSD, belasan kilometer panjangnya.

Berbekal perahu karet sederhana, mereka mendorong sampah dari pagi hingga dini hari. Mereka ingin melihat sungai mereka indah seperti dulu. Mereka ingin sungai ini bebas dari sampah dan limbah.

“Dulu si Ablak mandinya di sini, Bang,” cerita Ende, salah satu pegiat Sekber yang menemani kami, sambil menunjuk sebuah area yang kini dipenuhi sampah warga.

“Ah elu kali yang di sini, gue di sono!” Timpal Ukar, pemuda jenaka yang gemar memperkenalkan diri dengan banyak nama. Kadang Baim, Kevin, atau Michael. Teman-temannya memanggilnya Ablak.

Halaman:

Tags

Terkini