Serpong - Berawal dari suasana pagi yang cerah tapi mendung salah satu warga group TC berkomentar, "Cuaca di Koceak, daerah tertinggal di Tangerang Selatan masih berawan. Selamat pagi, " ujar warga tersebut di WAG TC, Sabtu (7/9-2019).
Diskusi pagi hari ini tentang Udara Di Tangerang Selatan Paling Tidak Sehat Di Dunia, salah satu media nasional memunculkan berita tersebut, terkait Komunitas yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Lingkungan Kota (MALIKA) menggelar aksi teatrikal di bunderan Pamulang, Tangerang Selatan, Kamis lalu (5/9/2019).
"Apa benar udara di Kota Tangsel paling tidak sehat sedunia ???, " itu pertanyaan Bang Sabda Lubis, awalnya diskusi.
"Sensornya dimana, ada yang tau ?," pertanyaan Aldrin.
Untuk menjawab pertanyaan itu, Asda. 1 Pemkot Tangsel, H. Rahmat Salam memberikan sekilas info, beberapa tahun yang lalu Kota Tangsel pernah dinobatkan dua kali ibu walikota menerima penghargaan Kota Tangsel sebagai udara terbersih nomor dua seluruh kota se Indonesia.
"Ya, benar. Rada aneh dan ironis. Kota Tangsel memiliki tujuh situ dan dilewati lima sungai aktif. Tanahnya berbukit dengan tingkat kesuburan paling baik diantara kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang. Banyak pohon besar, sebaliknya tak ada industri bercerobong asap dan penghasil limbah basah," komentar Mr. Ten (Uten Sutendi) selaku moderator WAG Tangsel Club (TC).
Menurut Mr. Ten, logikanya dimana jadi penghasil udara paling buruk? Alasan paling rasional mungkin karena faktor TPA Cipeucang, itupun sudah hijau, tinggal bau minyak kasturinya (bau sampah/red) belum hilang.