nasional

Pers Tetap Independen di Era Digital, HUT Ke-3 FPRMI Soroti Tantangan Jurnalisme dan Algoritma Media Sosial

Sabtu, 18 Juli 2026 | 08:50 WIB
Anggota DPD RI Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Syauqi Soeratno, saat menghadiri Gala Dinner Hari Ulang Tahun (HUT) ke-3 Forum Pimpinan Redaksi Multimedia Indonesia (FPRMI) di Gedung DPD RI Yogyakarta

YOGYAKARTA — Pers nasional dituntut mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital tanpa mengorbankan independensi dan profesionalisme.

Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, media massa tetap memiliki peran strategis sebagai pilar keempat demokrasi yang menyajikan informasi akurat, berimbang, dan dapat dipercaya.

Pesan tersebut disampaikan Anggota DPD RI Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Syauqi Soeratno, saat menghadiri Gala Dinner Hari Ulang Tahun (HUT) ke-3 Forum Pimpinan Redaksi Multimedia Indonesia (FPRMI) di Gedung DPD RI Yogyakarta, Jumat (17/7/2026).

Baca Juga: Ketum FPRMI Tekankan Pentingnya Kode Etik Jurnalistik pada HUT Ke 3, Ajak Organisasi Pers Perkuat Kolaborasi

Kegiatan tersebut dihadiri jajaran pengurus pusat dan daerah FPRMI, Anggota Dewan Pers Yogi Hadi Ismanto, Ketua Umum Pengurus Pusat FPRMI Bernadus Wilson Lumi, serta sejumlah pimpinan media dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam sambutannya, Syauqi menilai transformasi digital telah mengubah secara drastis pola masyarakat dalam memperoleh informasi.

Jika sebelumnya publik bergantung pada televisi, radio, dan surat kabar, kini media sosial memungkinkan siapa saja menjadi penyebar informasi, meski tidak semuanya memahami standar jurnalistik maupun Kode Etik Jurnalistik.

Menurutnya, kondisi tersebut memunculkan tantangan baru karena sebagian masyarakat kerap mengambil kesimpulan hanya berdasarkan judul berita tanpa membaca isi secara utuh.

Baca Juga: Dewan Pers Dorong Produk Jurnalistik Masuk UU Hak Cipta, Angin Segar bagi Keberlangsungan Media

Selain itu, algoritma media sosial juga dinilai memengaruhi cara informasi dikonsumsi. Perhatian pengguna yang sangat singkat membuat media dan pembuat konten harus mampu menarik minat audiens hanya dalam hitungan detik.

Syauqi menjelaskan, ketika seseorang berhenti menonton sebuah konten selama sekitar enam detik, sistem algoritma akan menganggap konten tersebut relevan sehingga terus menampilkan materi serupa.

Pola tersebut menjadi tantangan bagi media massa maupun lembaga publik dalam menyampaikan informasi yang tetap bernilai, akurat, dan mudah dipahami.

Meski menghadapi perubahan besar, ia menegaskan kualitas jurnalistik tidak boleh dikorbankan.

 

Halaman:

Tags

Terkini