ZBaca Juga: Sengketa Situ Ranca Gede, Penerus Banten Nilai Putusan PT TUN Sarat Kejanggalan
Relevansi untuk Indonesia
Belajar dari tiga negara ini, ada beberapa pelajaran penting bagi Indonesia dalam membenahi MBG:
1. Standarisasi dan edukasi (Jepang)
MBG harus dilihat bukan hanya sebagai logistik pangan, tetapi juga pendidikan gizi. Anak bisa dilibatkan dalam proses, dan menu harus sederhana serta aman.
2. Digitalisasi dan transparansi (Korea Selatan)
Pemanfaatan aplikasi sederhana untuk mencatat suhu, bahan, hingga laporan orang tua bisa menutup celah pengawasan.
3. Kesederhanaan menu (Finlandia)
MBG tidak perlu berlebihan. Menu sederhana berbasis pangan lokal segar lebih aman, lebih mudah diawasi, dan lebih mendidik.
Selain itu, ada dua aspek yang sangat penting bagi Indonesia. Pertama, anggaran: program sebesar ini membutuhkan efisiensi agar dana tidak habis di ongkos distribusi atau menu yang berlebihan.
Baca Juga: Pemkot Tangsel Hadiri Rapat Komisi II DPR RI, Bahas Gugatan Aset Lahan Sdri. Yatmi dengan PT JRP
Kedua, akuntabilitas publik: masyarakat harus dapat mengawasi, melaporkan, dan menilai pelaksanaan program secara transparan. Tanpa dua aspek ini, MBG hanya akan menjadi proyek musiman tanpa daya tahan.
Program MBG lahir dari niat baik, tetapi niat saja tidak cukup. Keberhasilan program di Jepang, Korea, dan Finlandia menunjukkan bahwa makan bergizi di sekolah hanya akan efektif jika dipadukan dengan standar higienitas, teknologi pengawasan, dan kesederhanaan menu.
Indonesia tidak harus menyalin mentah-mentah, tetapi bisa memetik prinsip kunci: kesegaran, transparansi, dan pendidikan gizi.
Baca Juga: CV Galih Cantiqi Menang Tender Jalan Widya Kencana Rp12,3 M, Alamat Perusahaan Diduga Palsu
Pada akhirnya, ukuran sukses bukanlah berapa juta porsi yang dibagikan, melainkan sejauh mana orang tua yakin anak-anaknya bisa makan dengan aman, sehat, dan bermartabat di sekolah.
Dari situlah MBG dapat bertransformasi dari potensi krisis menjadi pilar pembangunan manusia Indonesia. (***)
Penulis adalah Komisaris Independen PT Antam Tbk., penulis buku, aktivis Reformasi 98.