Denpasar, bidiktangsel.com – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, memimpin jalannya Ministerial Summit CHANDI 2025 pada hari kedua penyelenggaraan forum internasional budaya yang digelar di Bali Beach Convention Centre, Denpasar, Selasa (2/9/2025).
Forum yang mengusung tema “Culture Beyond 2030: Safeguarding Heritage, Building Peace, and Advancing Cultural and Creative Industries in a Digital Future” ini menjadi wadah strategis bagi para menteri kebudayaan dunia untuk merumuskan langkah konkret dalam memperkuat peran budaya sebagai pilar pembangunan berkelanjutan.
Baca Juga: Polres Blitar Kota Bongkar Ladang Ganja Terbesar di Gandusari, Pemilik Ditangkap
Hasil dari diskusi akan dituangkan dalam Bali Cultural Initiative Declaration 2025.
Dalam pidato pembukaannya, Fadli Zon menegaskan pentingnya budaya ditempatkan di garis depan pembangunan global.
“Budaya adalah sarana untuk mengubah perbedaan menjadi kohesi sosial, mekanisme adaptif menghadapi ancaman iklim, kompas dalam memanfaatkan teknologi dengan bijak, sekaligus jembatan memperluas inklusivitas,” ujarnya di hadapan 39 ketua delegasi negara.
Menbud RI juga menekankan empat isu utama yang menjadi fokus pembahasan, yaitu:
- Ancaman iklim terhadap warisan budaya – satu dari enam warisan budaya dunia kini terancam.
- Transformasi digital dan kecerdasan buatan (AI) – peluang sekaligus tantangan bagi ekosistem budaya, termasuk etika penggunaan AI.
- Industri budaya dan kreatif (CCIs) – bernilai lebih dari USD 4,3 triliun, mendukung 30 juta lapangan kerja, serta menjadi motor pertumbuhan UMKM dan kreativitas generasi muda.
- Perlindungan budaya dalam konflik – maraknya perusakan, penjarahan, dan perdagangan ilegal objek budaya.
Baca Juga: Indonesia Resmi Buka CHANDI 2025 di Bali, Tekankan Budaya sebagai Kekuatan Global
Sejumlah negara peserta, termasuk Zimbabwe, Palestina, dan Suriah, menyoroti pentingnya budaya sebagai instrumen diplomasi dan perdamaian global.
Menteri Kebudayaan Palestina, Imadeddin A.S. Hamdan Fawzyah, menegaskan bahwa konflik di Gaza telah menghancurkan ratusan situs budaya dan melukai identitas nasional.
Meski demikian, Palestina tetap meluncurkan program pelestarian budaya dan pengembangan industri kreatif.
Menteri Kebudayaan Suriah, Mohammed Yassin Saleh, menambahkan bahwa budaya harus ditempatkan sebagai inti diplomasi antarbangsa.
Baca Juga: Cara Mudah Merawat Radiator Mobil Agar Mesin Awet
“Budaya memiliki kekuatan untuk menjadi kompas perdamaian, penggerak pembangunan, dan modal kemanusiaan dalam menghadapi masa depan,” tegasnya.