nasional

Makin Aneh, Trump Kenakan Tarif Dagang pada Pulau Tak Berpenghuni yang Hanya Dihuni Penguin

Sabtu, 5 April 2025 | 15:12 WIB

Pulau yang Hanya Dihuni Penguin juga Kena Tarif Dagang Tinggi dari Trump. (Freepik/wirestock)
Bidiktangsel.com — Kebijakan perdagangan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menuai sorotan.

Kali ini, sasaran tarif dagang justru jatuh pada wilayah yang tidak memiliki penduduk sama sekali: Pulau Heard dan Kepulauan McDonald, kawasan terpencil milik Australia di sekitar Antartika yang hanya dihuni oleh koloni penguin.

Pulau Heard dan Kepulauan McDonald merupakan wilayah eksternal Australia yang letaknya sangat terpencil dan hanya bisa dijangkau melalui pelayaran selama dua minggu dari Perth, Australia Barat.

Baca Juga: Sopir Angkot Meninggal di Dalam Kendaraan di SPBU Ciputat Timur, Polisi Lakukan Pemeriksaan TKP

Meski tidak ada aktivitas ekonomi nyata dan tidak pernah dikunjungi manusia selama hampir satu dekade terakhir, kedua pulau ini tetap masuk dalam daftar "target tarif dagang" terbaru yang diumumkan oleh Gedung Putih.

Tarif 10 Persen untuk Pulau Tak Berpenghuni

Berdasarkan kebijakan baru tersebut, Amerika Serikat menetapkan tarif perdagangan sebesar 10 persen terhadap wilayah luar Australia, termasuk Pulau Heard dan McDonald.

Hal ini memicu keheranan banyak pihak, mengingat tidak ada data signifikan yang menunjukkan adanya kegiatan ekspor dari wilayah tersebut ke AS.

Baca Juga: Dicuri Saat Bertugas, Wakil Wali Kota Tangsel Gantikan Motor Petugas Kebersihan dengan Dana Pribadi

Laporan dari The Guardian pada Sabtu, 5 April 2025, menyebut bahwa kawasan ini bahkan tidak memiliki bangunan permanen atau infrastruktur ekonomi yang layak.

Namun, data dari Bank Dunia mengindikasikan bahwa pada 2022, AS mencatat impor senilai 1,4 juta dolar AS (sekitar Rp22,8 miliar) dari wilayah ini—terutama dalam kategori produk mesin dan peralatan listrik.

Sumber barang-barang tersebut hingga kini masih menjadi misteri.

Baca Juga: Tarif 32 Persen dari AS ke Produk Indonesia, Balas Dendam Trump? Ini Penjelasannya

 

Halaman:

Tags

Terkini