Baca Juga: Pemkot Tangsel Gelar Salat Idulfitri 1446 H di Masjid Al Ithishom
Namun, para pakar hukum memperingatkan bahwa jika hasil akhir dari AI terlalu menyerupai karya yang dilindungi hak cipta, maka bisa saja terjadi pelanggaran hukum.
Lebih dari sekadar polemik legalitas, Miyazaki melihat tren ini sebagai ancaman terhadap makna seni itu sendiri.
Baginya, seni tidak semata-mata tentang hasil visual yang memikat, melainkan tentang refleksi dari emosi, pengalaman, dan jiwa manusia—sesuatu yang menurutnya tidak akan pernah bisa ditiru oleh mesin.
Baca Juga: Maknai Idulfitri di Tangsel, Pilar: Saatnya Menguatkan Silaturahmi, Mengokohkan Kebersamaan
Dengan semakin berkembangnya teknologi AI dalam dunia kreatif, pernyataan Hayao Miyazaki menjadi pengingat penting bahwa tidak semua inovasi selalu mendapat tempat di hati para seniman sejati. (***)