info-tangsel

Apa Dampaknya Jika Presiden Hanya Mengandalkan Media Arus Utama?

Selasa, 8 April 2025 | 14:29 WIB
Junaidi Rusli Wartawan Senior Asal Tangerang Selatan

Baca Juga: Dasco Jadi Tokoh Kunci di Balik Rencana Pertemuan Prabowo dan Megawati, Upaya Satukan Visi Bangsa

Jika masyarakat hanya disuguhi narasi tunggal dari media tertentu, maka terbentuklah persepsi publik yang tidak utuh. 

Ketimpangan antara narasi dan kenyataan di lapangan bisa menimbulkan rasa kecewa hingga ketidakpercayaan terhadap pemerintah.

4. Potensi Solusi dari Warga Tak Tersalurkan

Indonesia memiliki banyak komunitas inovatif, akademisi kritis, dan anak muda kreatif yang memiliki solusi nyata untuk berbagai persoalan bangsa. 

Namun, jika kanal komunikasi pemerintah tertutup dan tidak merangkul media alternatif atau kanal digital warga, maka kontribusi publik dalam perumusan kebijakan akan sangat terbatas. Ini merupakan pemborosan potensi bangsa.

5. Meningkatnya Polarisasi dan Disinformasi

Ketika pemerintah hanya menyampaikan narasi melalui media tertentu, masyarakat yang tidak percaya pada media tersebut akan mencari informasi dari sumber lain yang belum tentu kredibel. 

Akibatnya, hoaks, disinformasi, dan misinformasi mudah tersebar. 

Baca Juga: Mengapa Presiden Prabowo Hanya Mengandalkan 7 Media Mainstream untuk Menyampaikan Nasib Bangsa?

Polarisasi informasi pun makin tajam, dan pemerintah menghadapi tantangan dalam membangun kepercayaan yang merata di seluruh elemen masyarakat.

Mengandalkan media arus utama sebagai satu-satunya kanal komunikasi adalah strategi komunikasi yang berisiko. 

Di era keterbukaan, partisipasi publik dan diversifikasi media adalah kunci untuk memperkuat demokrasi dan membangun pemerintahan yang inklusif dan adaptif.

Presiden Prabowo perlu mempertimbangkan berbagai saluran komunikasi, termasuk media alternatif, platform digital independen, dan dialog langsung dengan masyarakat, agar narasi pemerintah benar-benar mencerminkan suara rakyat Indonesia. (***)

Halaman:

Tags

Terkini