Serpong, bidiktangsel.com – Sejumlah orang tua murid di salah satu sekolah negeri di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mengeluhkan adanya praktik pungutan yang diduga berkedok sumbangan sukarela.
Salah satu wali murid, Erni, mengungkapkan bahwa orang tua diminta memberikan Tunjangan Hari Raya (THR) untuk guru, meskipun disebut sebagai sumbangan tanpa paksaan.
"Saya ditagih terus. Kalau ini murni sumbangan, seharusnya tidak ada nominal yang ditentukan, kan? Ikhlasnya saja," ujar Erni kepada wartawan.
Baca Juga: Normalisasi Sungai Bekasi Terhambat Sertifikasi Lahan, Gubernur Jabar Soroti Masalah Kepemilikan
Tidak hanya itu, ia juga menyoroti dugaan intimidasi terhadap orang tua yang menolak membayar sumbangan.
Bahkan, ada wali murid yang disebut-sebut mendapat ancaman bahwa anaknya bisa dikeluarkan dari sekolah jika tidak memenuhi permintaan tersebut.
Selain dugaan pungutan THR, Erni juga menyoroti biaya-biaya lain yang dibebankan kepada orang tua, mulai dari seragam, atribut, hingga pungutan untuk siswa pindahan yang diduga berkedok santunan anak yatim.
"Awalnya saya kira uangnya benar-benar untuk santunan. Tapi lama-lama saya sadar, setiap ada murid baru masuk, orang tua selalu dimintai uang dengan alasan yang sama. Seperti jual beli bangku saja," tambahnya.
Tak hanya itu, pungutan juga disebut-sebut terjadi dalam hal legalisir sertifikat ekstrakurikuler, yang seharusnya diberikan secara gratis kepada siswa.
Kasus ini menjadi sorotan setelah beberapa wali murid mulai menyuarakan keberatan mereka di grup percakapan sekolah.
Baca Juga: Penyaluran Zakat dalam Safari Ramadan Bupati Serang Murni Kegiatan Sosial, Bukan Politik
Namun, alih-alih mendapat solusi, mereka justru mendapatkan respons yang kurang mengenakkan.
"Ada orang tua yang dibungkam agar tidak memperkeruh suasana. Padahal, kami hanya ingin transparansi," ujar salah satu wali murid yang enggan disebutkan namanya.