info-tangsel

Konsep Kematangan Dan Teori Belajar Behavioristik Dan Humanistik

Jumat, 1 November 2024 | 15:30 WIB
Dua teori yang sering dijadikan panduan utama adalah teori belajar behavioristik dan humanistik.

Dalam eksperimen ini, anjing belajar untuk mengasosiasikan stimulus (nyala lampu) dengan pemberian makanan, sehingga respons berupa air liur terjadi meskipun makanan belum diberikan. 

Baca Juga: PKM Tim Dosen Fakultas Hukum Universitas Pamulang Di Kelurahan Buaran Kecamatan Serpong

Pavlov menyimpulkan bahwa perilaku dapat terbentuk melalui pengulangan stimulus yang serupa, di mana individu akan merespons dengan cara yang sama ketika dihadapkan pada stimulus tersebut. 

Dalam dunia pendidikan, classical conditioning dapat diaplikasikan dengan cara memberikan sinyal tertentu yang dapat dikaitkan dengan aktivitas belajar. 

Misalnya, bel sekolah dapat diartikan sebagai tanda mulai atau berakhirnya kelas, yang memicu respons siswa untuk bersiap atau berhenti belajar sesuai dengan sinyal tersebut. 

Pendekatan ini juga diterapkan dalam penegakan disiplin di kelas, di mana guru memberikan tanda atau peringatan untuk menunjukkan batasan tertentu.

Baca Juga: UMKM Binaan Sudin PPKUKM Jakarta Selatan Apresiasi PKM Universitas Pamulang

Selain Pavlov, John B. Watson juga berkontribusi besar terhadap perkembangan teori behavioristik dengan eksperimennya tentang pembiasaan pada manusia. 

Watson percaya bahwa perilaku manusia dapat dikendalikan dan diubah melalui pembiasaan yang dilakukan secara konsisten. Dalam eksperimen terkenal "Little Albert," Watson mengajarkan seorang anak untuk merasa takut pada tikus putih dengan mengaitkan tikus tersebut dengan suara keras yang menakutkan. 

Melalui percobaan ini, Watson membuktikan bahwa emosi dan respons tertentu dapat diajarkan dan dipelajari. Watson berargumen bahwa semua perilaku manusia, termasuk emosi, dapat dipelajari melalui asosiasi stimulus. 

Dalam konteks pendidikan, teori ini menjadi dasar dalam mengajarkan kebiasaan atau respons tertentu kepada siswa, terutama yang berkaitan dengan keteraturan dan kedisiplinan di dalam kelas.

Baca Juga: PKM Unpam, Ajak Siswa Madrasah Aliyah Darul Hikmah Tingkatkan Literasi Melalui Membaca Cerpen Bahasa Inggris

B.F. Skinner, seorang behavioris Amerika lainnya, memperkenalkan teori operant conditioning atau pengondisian operan yang menekankan pentingnya reinforcement atau penguatan dalam pembentukan perilaku.

Skinner berpendapat bahwa perilaku dapat diatur melalui pemberian reinforcement positif dan negatif. Dalam operant conditioning, reinforcement positif berupa hadiah atau pujian diberikan untuk memperkuat perilaku yang diinginkan, sementara reinforcement negatif berupa hukuman digunakan untuk mengurangi perilaku yang tidak diinginkan. 

Skinner menggunakan kotak yang disebut "Skinner Box" dalam eksperimennya, di mana seekor tikus dilatih untuk menekan tuas yang akan mengeluarkan makanan sebagai hadiah. Dengan latihan berulang, tikus belajar untuk menekan tuas demi mendapatkan makanan.

Halaman:

Tags

Terkini