Serpong, bidiktangsel.com - Taman Kota 2 di Tangerang Selatan, atau yang dikenal sebagai Gelanggang Kesenian, memiliki sejarah panjang dan penting dalam perkembangan seni dan budaya di kawasan ini.
Perjalanan seni dimulai sejak 1988 di Jakarta, dengan para seniman seperti Bang Didin Al.Tawa, Bang Kardi Said, dan Bang Jos Rizal Manua.
Baca Juga: Gebyar Koperasi dan UMKM 2024: Pemkot Tangsel Dukung Pelaku Usaha, Kata Benyamin Davnie
Mereka telah menulis dan berkarya di berbagai media, termasuk Media Indonesia, Suara Pembaharuan, Swadesi, Republika, dan Sabili, serta menerbitkan berbagai buku antologi sastra.
Pada tahun 2004, para seniman ini pindah ke Tangerang Selatan, yang saat itu masih bagian dari Tangerang, dan dikenal sebagai Cipasera.
Bersama rekan-rekan lainnya, mereka mulai membentuk komunitas seni yang menjadi cikal bakal Kota Tangerang Selatan (Tangsel).
Pembentukan Dewan Kesenian Tangerang Selatan
Pada tahun 2010, seiring terbentuknya Kota Tangerang Selatan, mereka, bersama Bang Agam P. dan lainnya, mendirikan Dewan Kesenian Tangsel (DKTS).
Periode 2010 - 2015 terpilih Shobir Poor sebagai Sekjen. DKTS dan untuk Periode berikutnya 2015 - 2020 sebagai Ketua Umum DKTS.
DKTS aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan seperti lomba, penerbitan buku, menjadi juri di FLS2N, serta memberikan workshop di sekolah-sekolah dan instansi pemerintah.
Baca Juga: Pj Gubernur Banten Apresiasi Senam Pagi Berbalut Wastra Nusantara
Sekretariat DKTS didirikan dengan dana pinjaman yang dibayarkan setelah anggaran DKTS cair.