Debat Publik, Rama Shinta Soroti Keterbatasan Fasilitas Kesehatan

photo author
Radi Iswan, Bidik Tangsel
- Rabu, 13 November 2024 | 09:41 WIB
Paslon nomor urut 2, yakni Ruhamaben dan Shinta Wahyuni Chaerudin
Paslon nomor urut 2, yakni Ruhamaben dan Shinta Wahyuni Chaerudin

Serpong, bidiktangsel.com - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Tangerang Selatan menyelenggarakan debat publik pertama untuk pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tangerang Selatan dalam Pilkada Serentak 2024, Selasa malam.

Dalam debat yang berlangsung intens dan penuh diskusi, kedua pasangan calon (Paslon) memaparkan visi serta strategi terkait peningkatan layanan kesehatan di Tangerang Selatan. 

Baca Juga: Kontroversi Profesionalisme: Cabup Wakatobi Haliana Diduga Manipulasi Hasil Survei dan Direktur Riset Index Politica

Tema kesehatan menjadi fokus utama, mengingat peningkatan jumlah penduduk yang terus berlanjut di wilayah ini.

Sesi tanya jawab dimulai dengan Paslon nomor urut 2, yakni Ruhamaben dan Shinta Wahyuni Chaerudin, yang diberikan pertanyaan oleh panelis mengenai pelayanan kesehatan di Tangerang Selatan.

Berdasarkan data, Tangerang Selatan memiliki populasi sebanyak 1.404.785 jiwa, sementara itu, jumlah puskesmas yang tersedia saat ini baru mencapai 39 unit.

Baca Juga: Pemkot Tangsel Tambah Rute Bus Sekolah Gratis untuk Pelajar, Simak Rutenya!

Jumlah ini dinilai belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat secara optimal.

Data dari Dinas Kesehatan pada Juli 2024 juga mencatat angka kematian ibu di Tangerang Selatan berada pada angka 60 per 100.000 kelahiran hidup. 

Meskipun terdapat penurunan, angka ini masih berada di atas target nasional sebesar 55 per 100.000 kelahiran hidup.

Baca Juga: Pemkot Tangsel Perkuat Upaya Tanggap Banjir, dari Evakuasi hingga Bantuan Logistik

Menanggapi hal tersebut, calon Wakil Wali Kota, Shinta Wahyuni Chaerudin, menyoroti keterbatasan fasilitas kesehatan di Tangerang Selatan, terutama di rumah sakit yang dinilai belum memiliki kapasitas memadai untuk melayani seluruh penduduk.

"Saat ini, kapasitas tempat tidur di rumah sakit belum mampu memenuhi kebutuhan yang ada. Terlebih lagi, selama pandemi COVID-19, banyak puskesmas yang berubah fungsi dari pusat layanan preventif menjadi layanan kuratif. Hal ini mengurangi fokus pada edukasi dan pencegahan kesehatan masyarakat," jelas Shinta.

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Radi Iswan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X