Beragam kabar dari lima benua hadir di genggaman, mengalir tanpa sekat melalui lorong-lorong internet. Di satu sisi membawa manfaat, di sisi lain menyimpan kekhawatiran, terutama bagi anak-anak usia dini yang mudah terpapar tanpa filter nilai.
Dalam konteks inilah makna Isra Mi’raj menemukan relevansinya. Sholat bukan sekadar ritual, melainkan benteng moral dan spiritual.
Tanggung jawab bersama bagi orang tua, pendidik, dan masyarakat untuk menanamkan sholat kepada anak, cucu, hingga generasi berikutnya sebagai pengingat akan Tuhan-Nya. Melalui sholat, manusia sejatinya berdialog dengan Allah SWT.
Baca Juga: Mahfud MD Contohkan Gus Dur yang Santai saat jadi Bahan Lawakan Bagito
Para ulama menegaskan, pembeda paling nyata antara mukmin dan kafir adalah sholat. Bahkan, ancaman dosa besar membayangi mereka yang dengan sengaja meninggalkannya.
Pesan Isra Mi’raj pun menjadi cermin: iman sejati menuntut kepasrahan, konsistensi, dan penghambaan yang utuh.
Di tengah hiruk-pikuk zaman modern, sholat tetap menjadi jangkar. Sebagaimana Abu Bakar As-Shiddiq meneguhkan iman tanpa syarat, umat Islam hari ini dituntut menjaga keyakinan melalui sholat—sebagai mi’raj pribadi menuju ketenangan dan keselamatan.
Wallahu a’lam.