Artikel, bidiktangsel.com - Nama sayur lilin atau tebu telur, yang juga dikenal dengan nama ilmiah Saccharum edule, sudah tidak asing lagi di telinga kita.
Tanaman ini telah menjadi salah satu pangan lokal yang dikonsumsi setiap hari dan memiliki nilai gizi tinggi untuk pemenuhan protein.
Sayur lilin memiliki bentuk yang menyerupai tebu, namun perbedaannya terletak pada bagian yang dikonsumsi.
Jika tebu dimakan batangnya, pada sayur lilin yang dimakan adalah bakal bunga yang belum mekar, tersembunyi di balik daun pembungkus.
Menurut laporan dari Mongabay.com, di Indonesia, sayur lilin atau tebu telur memiliki beragam nama di setiap daerah. Di Pulau Jawa, misalnya, dikenal sebagai tebu telur atau sayur terubuk.
Masyarakat Jawa Barat menyebutnya tiwu endog atau terubus, sementara di Jawa Tengah dan Jawa Timur disebut tebu endog atau tebu terubuk.
Nama "endog" atau "telur" merujuk pada bagian yang dimakan yang teksturnya mirip telur ikan.
Di Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara, terdapat beberapa jenis sayur lilin yang telah diidentifikasi.
Menurut Jurnal Agrologia, jenis-jenis tersebut meliputi putih pendek, putih panjang, kuning pendek, kuning panjang, dan putih panjang dengan batang kemerahan.
Di Papua, sayur lilin memiliki nilai kultural tinggi dan telah ditanam sejak masa prasejarah.
Menurut Hari Suroto, seorang peneliti arkeologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), varietas sayur lilin di Papua lebih banyak dan termasuk tanaman yang pertama kali dibudidayakan di masa awal budaya pertanian di wilayah tersebut.
Artikel Terkait
Banten Optimalkan Irigasi Perpompaan dan Pompanisasi Hadapi Kemarau
Narkoba Masuk Kategori Darurat, Al Muktabar: Pencegahan Harus Sampai ke Rumah Tangga!
Ribuan Masyarakat di Pontang Semarakkan Roadshow LKBA 2024, Tatu: Semangat Jaga Kebersihan!
Kementerian ATR/BPN Memantapkan Langkah Menuju Indonesia Emas 2045, Penyusunan RKA-K/L Pagu Anggaran 2025 Digelar
FGD Geopark Bayah Dome: Menuju Destinasi Wisata Unggulan Nasional