banten-raya

Bupati Tangerang Peringati Hari Bumi 2025 dengan Tanam 2.000 Mangrove dan Lepas 100 Mimi di Pesisir Mauk

Selasa, 13 Mei 2025 | 21:11 WIB
Maesyal Rasyid menyampaikan bahwa penanaman mangrove bukan sekadar menanam pohon, melainkan juga menanam harapan untuk anak cucu dan bumi yang lebih sehat.

Tangerang, bidiktangsel.com – Dalam rangka memperingati Hari Bumi 2025, Pemerintah Kabupaten Tangerang menunjukkan komitmen nyata terhadap pelestarian lingkungan melalui penanaman 2.000 pohon mangrove dan pelepasan 100 ekor mimi (kepiting tapal kuda) di pesisir Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten.

Aksi ekologis ini dipimpin langsung oleh Bupati Tangerang, Maesyal Rasyid.

Kegiatan ini turut menggandeng Forum Alumni HMI-Wati (FORHATI) Nasional dan Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kabupaten Tangerang, sebagai wujud kolaborasi lintas sektor demi mewujudkan lingkungan pesisir yang tangguh dan berkelanjutan.

Baca Juga: Tragedi di Apartemen: Seorang Pria Ditemukan Tewas Diduga Bunuh Diri, Polisi Masih Selidiki Penyebab

Penanaman Mangrove: Menanam Harapan untuk Generasi Mendatang

Dalam sambutannya, Maesyal Rasyid menyampaikan bahwa penanaman mangrove bukan sekadar menanam pohon, melainkan juga menanam harapan untuk anak cucu dan bumi yang lebih sehat.

"Penanaman mangrove bukan sekadar menanam pohon, tapi menanam harapan untuk anak cucu kita dan bumi yang lebih sehat," ujarnya.

Baca Juga: Pemkot Tangsel Siapkan Tiga Lahan Strategis untuk Perluas Program Makan Bergizi Gratis

Lebih dari sekadar pelestarian lingkungan, aksi ini juga memiliki dimensi ekonomi melalui penguatan ekonomi hijau berbasis masyarakat pesisir.

Dengan keberadaan hutan mangrove yang sehat, masyarakat dapat merasakan manfaat langsung seperti penangkapan ikan, budidaya kepiting, hingga wisata edukatif berbasis ekosistem pesisir.

Konservasi Mimi: Upaya Menjaga Keanekaragaman Hayati

Selain mangrove, pelepasan 100 mimi atau kepiting tapal kuda (horseshoe crab) menjadi sorotan penting.

Baca Juga: Prabowo Subianto Berduka Atas Wafatnya Eddie Nalapraya, Tokoh Sentral Pencak Silat Indonesia Era 1980-an

Satwa laut purba ini dikenal sebagai indikator kesehatan ekosistem laut dan kini semakin langka akibat kerusakan habitat.

Halaman:

Tags

Terkini