Serang, bidiktangsel.com - Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris Daerah Provinsi Banten Virgojanti menegaskan bahwa inflasi di Provinsi Banten masih dipengaruhi oleh harga komoditas pangan.
Untuk itu, Pemerintah Provinsi Banten terus memperkuat ketahanan pangan sebagai upaya pengendalian inflasi.
Hal tersebut diungkapkan Virgojanti usai mengikuti Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi yang dipimpin Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia (Mendagri) M Tito Karnavian secara virtual di Pendopo Gubernur Banten, KP3B Curug, Kota Serang, pada Senin (29/4/2024).
Baca Juga: Semangat Otonomi Daerah dan Apresiasi Inovasi Pelayanan Publik di HUT Banten ke-28
Virgojanti menjelaskan bahwa inflasi Provinsi Banten pada April 2024 mencapai 3,4 persen. Angka ini perlu terus dikendalikan karena inflasi dapat memengaruhi aktivitas perekonomian masyarakat.
"Inflasi di Provinsi Banten masih dipengaruhi oleh harga pangan kebutuhan pokok," ungkapnya.
Virgojanti menambahkan bahwa gula dan bawang merah masih menjadi komoditas dengan harga tinggi, baik di tingkat nasional maupun di Provinsi Banten.
Produksi bawang merah di Provinsi Banten masih terbatas, sementara di daerah penghasil bawang merah terjadi pergeseran tanam.
Baca Juga: Disdukcapil Serang Gencar Jaring Warga Pendatang, Razia dan Sisir 6 Kecamatan
Untuk mengatasi hal tersebut, Pemprov Banten melakukan beberapa upaya, antara lain: menjalin kerja sama antar daerah penghasil bawang merah untuk memasok kebutuhan bawang merah di Provinsi Banten.
Juga menjalin kerja sama hubungan bisnis melalui PT Agro Bisnis Mandiri (ABM), BUMD Pemprov Banten dengan kelompok tani bawang merah.'
Dan memperkuat ketahanan pangan sebagai bagian pengendalian inflasi dan mengurangi ketergantungan impor.
Berdasarkan Indeks Perkembangan Harga (IPH) mingguan 20 komoditas pangan, di Provinsi Banten terjadi penurunan sebesar -1,47.
Hal ini menunjukkan bahwa upaya Pemprov Banten dalam pengendalian inflasi mulai menunjukkan hasil.