Baca Juga: Konflik Lahan Legok Memanas, BaraNusa Desak ATR/BPN Tangerang Segera Berikan Kepastian Hukum Warga
Sebaliknya, Argentina tetap bergantung pada kecerdasan Lionel Messi dalam membuka ruang sekecil apa pun.
Usia Messi terus bertambah, tetapi visi permainannya masih membuat pertahanan lawan kehilangan arah.
Menghentikan Messi terdengar sederhana ketika dibahas di studio televisi, tetapi hampir mustahil diwujudkan selama sembilan puluh menit.
Mac Allister menegaskan Argentina tidak merasakan tekanan karena pengalaman telah membentuk mental juara mereka.
Pernyataan itu terdengar wajar, sebab juara bertahan memang tidak membutuhkan validasi dari keraguan publik.
Teddy Sheringham bahkan mengingatkan Inggris mengenai kerasnya bek-bek Argentina yang tak pernah mengenal kompromi.
Sindiran itu sebenarnya menggambarkan identitas sepak bola Amerika Selatan yang selalu mengutamakan kemenangan.
Semifinal ini tidak menjanjikan permainan indah sepanjang laga, tetapi hampir pasti menyuguhkan benturan karakter tanpa belas kasihan.
Sejarah membuktikan Inggris melawan Argentina jarang melahirkan pertandingan biasa.
Siapa pun pemenangnya, dunia kembali belajar bahwa beberapa rivalitas tidak pernah selesai oleh waktu, skor, ataupun generasi.
(***)