nasional

Di Masa Pandemi Anak Indonesia Perlu Dilindungi

Jumat, 23 Juli 2021 | 11:49 WIB

Lebih lanjut lagi, Woro menjelaskan bahwa ekonomi keluarga yang tertekan akibat pandemi  mempengaruhi gizi anak-anak dan berpotensi menimbulkan stunting dan problem lainnya.  “Berkaca di awal pandemi 2020 lalu, layanan imunisasi anak terhambat dan banyak pula  masyarakat yang takut ke layanan kesehatan sehingga anak-anak tidak mendapatkan imunisasi  lengkap,” tambah Woro.

“Selain fokus untuk keluar dari pandemi, penting juga kita memberikan imunisasi rutin kepada  anak usia 18 bulan. Mulai dari imunisasi hepatitis B, BCG, PCV, campak dan rubella. Itu  merupakan vaksin yang rutin kita berikan setiap tahunnya,” pesan dr. Nadia 

Angga D. Martha, Spesialis Kebijakan Sosial UNICEF Indonesia juga turut menambahkan data.  “Baru-baru ini UNICEF dengan Badan Kebijakan Fiskal baru saja meluncurkan risalah kebijakan  mengenai dampak COVID-19 terhadap kemiskinan dan mobilitas anak. Jumlah anak dan remaja  yang jatuh kepada kemiskinan lebih besar dari kelompok usia lain. 40% dari total jumlah anak di  bawah 18 tahun di Indonesia, jatuh miskin di tahun 2020 karena terdampak berkurangnya  pendapatan rumah tangga,” ujarnya. 

Masih dalam kajian UNICEF, menyebutkan ada 25% dari rumah tangga Indonesia mengalami  kenaikan biaya hidup yang mendorong rumah tangga mengurangi konsumsi dan biaya  pendidikan. Ini mempengaruhi asupan gizi untuk anak-anak Indonesia. Pandemi yang  mengisolasi interaksi sosial pada anak-anak juga memberi dampak terhadap tumbuh kembang  mental anak, yang harus diselesaikan di masa pandemi. 

Langkah Kemendibudristek untuk mengurangi risiko yang dihadapi oleh anak-anak adalah,  menyegerakan PTM terbatas, tapi memang hal ini masih perlu mempertimbang kan dan  menyesuaikan dengan kondisi pandemi. 

“Bagi sekolah-sekolah juga kami minta agar memanggil anak-anak yang paling rentan untuk ke  sekolah dengan sangat terbatas guna mendapatkan bimbingan khusus. Kami juga  menyederhanakan kurikulum agar beban belajar anak-anak kita tidak terlalu berat, sehingga  hanya materi-materi yang paling esensial yang perlu diajarkan. Ketika nanti sudah bisa PTM  Terbatas, guru-guru juga diharapkan membimbing orang tua mengenai langkah-langkah  menangani putra-putri mereka di rumah, karena kita menyadari, tidak semua orang tua punya  kemampuan mendampingi putra-putrinya di rumah,” tutup Jumeri. (*/Red)

Halaman:

Terkini