nasional

Ahli Epidemiologi: Putus Rantai Penularan Virus COVID-19 dengan Vaksinasi

Kamis, 14 Januari 2021 | 18:15 WIB

Jakarta, bidiktangsel.com - Pemerintah Indonesia telah melaksanakan proses perdana dari  program vaksinasi bertahap dengan Presiden Joko Widodo, sebagai orang pertama di Indonesia  yang mendapat suntikan vaksin Sinovac pada pukul 09:42 WIB di Istana Negara, Jakarta Pusat. 

Menyusul Presiden Joko Widodo, sejumlah pejabat negara dan tokoh masyarakat juga turut serta  menerima vaksin pada hari ini, di antaranya Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, Ketua  Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr. Daeng M. Faqih, Panglima TNI Hadi Tjahjanto, Kapolri Idham  Azis, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amirsyah Tambunan, dan Rais  Syuriah PBNU KH Ahmad Ishomuddin. 

Menurut Ketua Umum Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia, Dr. dr. Hariadi Wibisono, proses  vaksinasi perdana yang disiarkan secara langsung tersebut merupakan cara yang baik untuk  meyakinkan masyarakat akan keamanan vaksin yang digunakan.  

“Ini adalah suatu momen yang sangat penting untuk meyakinkan masyarakat bahwa pemerintah  tidak akan memberikan sesuatu yang bernilai mudharat ke masyarakat. Dengan menerima vaksin  COVID-19 lebih dulu, para pemimpin kita ini telah memberikan contoh yang baik agar masyarakat  tidak perlu lagi takut dan ragu untuk divaksinasi,” ungkap Dr. dr. Hariadi. 

Sebelumnya Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) telah menjamin keamanan  vaksin COVID-19 produksi Sinovac yang digunakan di tahap pertama program vaksinasi di  Indonesia, dengan mengeluarkan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA). BPOM juga telah mengumumkan hasil efikasi berdasarkan uji klinik fase 3 di Indonesia  yang mencapai 65,3%. Angka efikasi ini lebih tinggi dari ketentuan WHO yang menetapkan syarat  minimal efikasi vaksin COVID-19 sebesar 50%.  

Dr. dr. Hariadi melanjutkan bahwa isu efikasi erat kaitannya dengan seroconversion.  “Seroconversion itu adalah seberapa jauh tubuh kita mampu bereaksi terhadap vaksin.  seroconversion bukan ditentukan oleh kualitas vaksin, tapi oleh kondisi tubuh seseorang. Ada  orang-orang yang tubuhnya tidak mampu membentuk antibodi, sehingga sebagus apapun vaksin  yang diberikan tidak akan berpengaruh terhadap tubuh mereka.” 

Ia menambahkan bahwa faktor kualitas rantai dingin (cold chain), yaitu sejak vaksin tersebut  keluar dari pabrik hingga saat akan disuntikkan, juga akan menentukan baik-tidaknya kualitas  vaksin. “Pengawasan rantai dingin yang baik juga akan mempengaruhi kualitas vaksin. Vaksin  COVID-19 dari Sinovac yang kita gunakan saat ini dibuat dengan metode inactivated virus.  Indonesia telah memiliki pengalaman berpuluh tahun dalam membuat dan mengelola vaksin  dengan model seperti itu. Dari sisi produksi, saya yakin produsen kita sudah siap dan  berpengalaman. Sedangkan dari sisi distribusi, infrastruktur kita juga sudah siap karena suhu  penyimpanan vaksin harus dijaga di 2-8 derajat Celsius. Puskesmas dan dinas kesehatan 

Halaman:

Terkini