Hal ini sangat jauh dari target AKI Indonesia pada tahun 2015 yaitu 102 per 100.000 kelahiran hidup. Tingginya AKI merupakan salah satu tantangan yang harus dihadapi Indonesia sehingga menjadi salah satu komitmen prioritas nasional, yaitu meng-akhiri kematian ibu saat hamil dan melahirkan sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelan-jutan/ Sustainable Development Goals (SDGs), target AKI adalah 70 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2030.
Kematian ibu akibat persalinan tidak hanya disebabkan oleh faktor kesehatan sang ibu semata seperti kekurangan gizi, anemia dan hipertensi, melainkan juga turut dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti ketersediaan infrastruktur kesehatan yang memadai, serta kesadaran keluarga untuk meminta bantuan tenaga keseha-tan dalam proses persalinan.
Menurut laporan dari WHO tahun 2014, kematian ibu umumnya terjadi akibat komplikasi saat, dan pasca kehamilan. Adapun jenis-jenis kompli-kasi yang menyebab-kan mayoritas kasus kematian ibu atau sekitar 75% dari total kasus kematian ibu antara lain; pendarahan, infeksi, komplikasi persalinan, aborsi yang tidak aman, dan hipertensi saat kehamilan.
Hipertensi adalah kenaikan tekanan darah dari nilai normal sekurang-kurangnya bernilai 140 mmHg sistolik dan 90 mmHg diastolik pada 2 kali pemeriksaan berjarak minimal 15 menit diukur pada lengan yang sama.
Hipertensi dapat terjadi pada siapa saja dan kondisi apa saja, termasuk saat seorang wanita dalam kondisi hamil. Ada beberapa jenis hipertensi yang terjadi pada kehamilan, salah satunya Pre-eklamsia.
Pre-eklamsia adalah kondisi hipertensi yang baru terjadi pada saat usia kehamilan minimal 20 minggu disertai dengan gangguan fungsi organ.
Diagnosis Pre-eklamsia dapat ditegak kan jika ukuran tekanan darah minimal 140/90 mmHg serta didapatkan protein pada urin melebihi 300 mg dalam 24 jam atau tes urin disptik > positif 1. Jika tidak didapatkan protein di urin, hipertensi harus diikuti oleh salah satu kondisi dibawah ini:
- Trombositopenia : trombosit <100.000/ mikroliter