Dalam hikayat Nabi Muhammad disebutkan bahwa Nabi yang membalas cacian seorang Yahudi buta dengan tetap memberinya makan dan menyuapinya. Namun di sisi lain, Nabi juga memutuskan untuk mengusir orang-orang Yahudi satu kampung karena mereka berbuat kejahatan berupa pengkhianatan dan melanggar kesepakatan untuk memerangi musuh dari luar. Pengusiran itu harus dilakukan karena bila tidak, akan merusak tatanan sosial. Orang sudah berbuat jahat, tapi tetap dibiarkan.
Bila dikaitkan dengan keadilan dan cinta kasih, mungkin hikayat paling populer nya ada dalam peristiwa Ali Bin Abi Thalib ketika menghadapi salah satu musuhnya. Disebutkan bahwa dalam sebuah peperangan, Ali berhasil menundukkan salah seorang yang senantiasa memprovokasi kejahatan dan peperangan dan akan membunuhnya. Namun tiba-tiba Ali urung menusukan pedang nya ke orang tersebut. Ketika ditanya kenapa tidak jadi membunuh, Ali menjelaskan bahwa tiba-tiba dia merasakan kemarahan dalam dirinya ketika melihat orang itu. Ali tidak jadi membunuhnya karena tidak ingin membunuh karena motif amarah bukan membunuh karena membangun keadilan.
Saat ini, aspek keadilan inilah yang kerap luput dari kehidupan kita. Ketika ada orang yang jelas-jelas menghina, orang menyerukan pemaafan. Padahal orang nya pun tidak pernah meminta maaf. Argumen yang dipakai tidak lain dari dalil-dalil agama itu sendiri. Kejahatan dibalas dengan kebaikan yang akan merusak tatanan sosial.
Sementara di sisi lain ketika ada orang yang menuntut balas, ekspresi yang muncul justru bukan menuntut keadilan, tapi mencurahkan kemarahan. Jadinya kejahatan pun dibalas dengan kejahatan kejahatan dan hidup makin gelap.
Just My Two Cent
Penulis : Delianur (Indonesia today.co)