nasional

Pengamat: Awas Penumpang Gelap Anggaran PSBB Tangsel

Rabu, 22 April 2020 | 11:19 WIB

Pondok Aren, bidiktangsel.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang Selatan (Tangsel) mengambil sejumlah langkah dalam percepatan penanganan wabah Covid-19. Mulai dari alokasi anggaran untuk Belanja Tidak Terduga (BTT) yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), hingga keputusan penetapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Namun terhitung sudah 5 hari, sejak ditetapkan PSBB mulai Sabtu (18/4/2020) hingga Rabu (22/4/2020) banyak memunculkan beberapa catatan kritis terhadap penanganan wabah yang berasal dari Wuhan, Tiongkok itu. Mulai validitas data pasien, kinerja gugus tugas hingga kucuran anggaran BTT.

"Kalau bicara penanganan, harusnya dan selayaknya semua valid. Soal data Orang Dalam Pemantauan (ODP) Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan Positif masih banyak yang tercecer. Ini yang mesti dikejar dan dibereskan lagi, karena data valid inilah menjadi acuan kinerja bagi pemkot Tangsel. PSBB ditetapkan karena salah satunya melihat data korban itu," ujar Adib Miftahul, analis kebijakan publik dan politik dari Universitas Islam Syekh Yusuf (UNIS), Rabu (22/4/2020).

Adib juga mengkritisi soal efektifitas dan urgensi anggaran BTT yang dilakukan dinas di pemkot Tangsel dalam menangani wabah yang hampir 2 bulan sudah menghinggapi Indonesia ini. Malah yang mengherankan, DPRD Tangsel mengaku belum mengetahui secara rinci kemana saja anggaran bakal digelontorkan.

"Saya mencatat ada dinas yang tak efektif, dan urgensinya dipertanyakan dalam penanganan covid-19 ini. Misal Disperkimta dan BPBD yang punya anggaran miliaran, urgensinya dimana soal covid-19 ini? Itu belum yang lain," jelas Adib seraya bertanya balik.

Dosen Fisip ini menambahkan, bantuan sosial ke masyarakat Tangsel hingga kini juga masih bersumber dari Kementerian Sosial, Pemrov Banten dan pihak swasta. Maka lanjut Adib, jangan sampai nanti publik menilai bahwa PSBB ditetapkan hanya sekedar pura-pura saja. Tetapi ada oknum atau penumpang gelap yang memanfaatkan status bencana untuk meraup keuntungan.

"Publik nanti akan menilai kebijakan pemkot soal PSBB hanya pura-pura saja. Ada PSBB karena dijadikan syarat untuk melegalkan atau mengeluarkan anggaran BTT. Ada dugaan atau indikasi terdapat oknum atau penumpang gelap yang memanfaatkan momen wabah ini. Nah disini saya kira alurnya," tambahnya.

Halaman:

Tags

Terkini