Jadi, apa yang ‘bebas’ dari dan untuk Tangsel di tahun 2020? Melalui catatan sederhana ini, izinkan saya memberikan pemaknaan dari sudut pandang saya sendiri.
Bila #2020TangselBebas memang merupakan medan tafsir yang terbuka, saya tertarik mencoba untuk memaknai nya.
Saya teringat konsep kebebasan (liberty) yang diperkenalkan oleh Isaiah Berlin, teoritisi politik keturunan Inggris-Rusia, yang membagi kebebasan menjadi dua (Two Concepts of Liberty, 1958), yakni bebas dari (freedom from) dan bebas untuk (freedom to). Akan menarik jika kita memahami ‘kampanye’ Bang Uten dengan dua konsep kebebasan ini.
Bagi saya, pertama-tama Tangsel harus bisa mencapai kondisi ‘bebas dari’. Charles Taylor menyebut situasi ini sebagai kebebasan negatif (negative freedom).
Tangsel harus bebas dari hal-hal negatif yang melingkupi dirinya, apapun itu. Jika kita mengeluh soal kemacetan, Tangsel harus terbebas dari kemacetan itu. Jika warga kota ini tersiksa karena pengelolaan sampah yang buruk, mereka harus terbebas dari kondisi itu. Jika masalah besar kota ini adalah ketimpangan, maka kebebasan yang paling penting bagi warga kota ini adalah bebas dari gagalnya tata kelola pemerintahan yang melanggengkan ketimpangan itu.
Singkatnya, kita harus bisa bebas dari apapun yang kita anggap negatif dari kota ini.
Kedua, bebas untuk (freedom to). Taylor menyebut ini kebebasan positif (positive freedom). Sederhananya, konsep kedua ini memberi tahu kita bahwa jika kita telah mencapai kebebasan ini, maka kita bebas untuk mendapatkan atau mengakses hal-hal baik di sekeliling kita.
Jika pemenuhan hak-hak individu yang adil adalah hal positif bagi kota ini, maka warga Tangsel harus bebas untuk bisa mendapatkannya.