nasional

Saham GOTO di Rp30, Investasi Telkomsel Rp6,4 Triliun Butuh Naik 800% untuk Balik Modal

Selasa, 6 Oktober 2026 | 12:40 WIB

Baca Juga: Coach Justin Soroti Taktik Herdman: Indonesia Mulai Berbuah, Thailand Jadi Ujian Berat di Final

Kembali ke Rp50 Belum Menutup Jarak Modal

Perhitungan tersebut juga menunjukkan besarnya jarak pemulihan bagi pemegang saham yang memiliki harga perolehan jauh di atas harga pasar.

Jika saham GOTO kembali ke level Rp50, kepemilikan 23,72 miliar saham Telkomsel akan memiliki nilai pasar sekitar Rp1,19 triliun.

Angka tersebut masih terpaut sekitar Rp5,22 triliun dari nilai investasi berdasarkan asumsi harga perolehan Rp270 per saham.

Dari Rp50 menuju Rp270, saham GOTO masih membutuhkan kenaikan sekitar 440 persen.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa kenaikan harga dari titik rendah tidak otomatis berarti nilai investasi pemegang saham lama telah kembali ke posisi modal awal.

Baca Juga: DPR Soroti Problem Lapas: Yanuar Arif Sebut Remisi Bisa Diperdagangkan Jika Petugas Tak Berintegritas

Telkomsel: Investasi GOTO Bersifat Strategis Jangka Panjang

Di tengah tekanan harga saham GOTO, Telkomsel sebelumnya menegaskan bahwa investasi tersebut merupakan bagian dari kemitraan strategis jangka panjang.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkomsel, Daru Mulyawan, mengatakan investasi di GOTO diarahkan untuk mengoptimalkan potensi sinergi dan menciptakan nilai bagi Telkomsel.

“Pergerakan saham GOTO mencerminkan dinamika pasar dan tidak merepresentasikan manfaat strategis dari kemitraan tersebut,” kata Daru dalam Public Expose Live 2026 pada 7 September 2026.

Saat itu, Telkomsel menyatakan akan terus mengevaluasi kinerja investasi serta realisasi sinergi secara disiplin. Keputusan terkait investasi juga disebut akan dilakukan secara prudent berdasarkan kajian dan mekanisme persetujuan yang berlaku.

Baca Juga: HUT ke-81 TNI Digelar Hari Ini, 5 Oktober 2026: Ini Rangkaian Upacara dan Agenda Utamanya

Dengan demikian, perhitungan nilai sekitar Rp5,69 triliun tersebut perlu ditempatkan sebagai penurunan nilai secara mark-to-market atau selisih nilai pasar terhadap harga perolehan, bukan otomatis sebagai kerugian terealisasi.

Halaman:

Tags

Terkini