"Karakteristik data yang beredar juga tidak menunjukkan keterkaitan dengan data transaksi nasabah maupun kredensial layanan perbankan perseroan," lanjut pernyataan tersebut.
Koordinasi dengan BSSN dan Tim Siber Nasional
Sebagai langkah lanjutan, Bank Jatim mengungkapkan telah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mendukung proses investigasi dan validasi data yang beredar.
Koordinasi dilakukan melalui Platform Cyber Threat Intelligence Sharing (CTIS) yang dikelola oleh Badan Siber dan Sandi Negara bersama sejumlah pemangku kepentingan di bidang keamanan siber.
Langkah tersebut dilakukan guna memastikan sumber data, tingkat validitas informasi yang beredar, serta mengidentifikasi kemungkinan risiko terhadap nasabah maupun sistem layanan digital perusahaan.
Pengamat: Publik Perlu Menunggu Hasil Investigasi Resmi
Meningkatnya kasus dugaan kebocoran data di berbagai sektor membuat isu keamanan siber menjadi perhatian utama masyarakat. Namun para ahli keamanan digital mengingatkan agar publik tidak terburu-buru menyimpulkan adanya kebocoran sebelum hasil investigasi resmi diumumkan.
Masyarakat juga diimbau untuk tetap waspada terhadap berbagai upaya penipuan yang memanfaatkan isu kebocoran data, seperti phishing, permintaan kode OTP, tautan palsu, maupun permintaan informasi rekening yang mengatasnamakan institusi perbankan.
Hingga berita ini diterbitkan, proses investigasi masih berlangsung dan Bank Jatim menyatakan akan terus memberikan informasi terbaru apabila ditemukan perkembangan lebih lanjut terkait dugaan kebocoran data tersebut.
(***)