nasional

Hormuz Memanas, Alarm Kedaulatan Energi RI, Krisis Hormuz Mengguncang Kedaulatan Energi Maritim Indonesia

Jumat, 27 Maret 2026 | 08:34 WIB
Ketua Umum Praktisi Maritim Indonesia (Pramarin), Dr. Datep Purwa Saputra, menilai momentum krisis ini harus menjadi titik evaluasi strategis kebijakan energi nasional.

Jakarta - Ketegangan yang semakin memuncak antara Iran dan Israel, dengan Amerika Serikat sebagai aktor utama dalam dinamika geopolitik global, memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi dunia.

Krisis di kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz, menjadi sorotan karena jalur strategis tersebut merupakan pintu utama distribusi minyak mentah global. 

Bagi Indonesia, negara kepulauan yang sangat bergantung pada logistik laut, situasi ini mengungkap kerentanan serius pada ketahanan energi maritim nasional.

Baca Juga: Di Balik Kecelakaan Mobil Travel yang Masuk Jurang di Majalengka, Ada Teriakan Penumpang ke Sopir untuk Pelan-pelan

Selat Hormuz merupakan salah satu choke point energi paling vital di dunia, dilalui sekitar sepertiga distribusi minyak global setiap harinya. Gangguan pada jalur tersebut berpotensi memicu lonjakan harga energi internasional serta disrupsi rantai pasok. 

Meski dampak langsung konflik dirasakan negara-negara produsen dan konsumen utama, Indonesia tetap menghadapi konsekuensi signifikan karena ketergantungan terhadap pasokan energi yang diolah negara lain.

Alarm Ketergantungan Energi

Indonesia yang memiliki lebih dari 17.000 pulau masih menggantungkan sebagian kebutuhan energi pada negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. 

Baca Juga: Ada Upaya Pembelaan Dugaan Pelanggaran IUP OP Tumpang Pitu, Kelompok Pegiat Anti Korupsi Singgung ‘Pahlawan Kesiangan’ untuk Abdullah Azwar Anas

Kedua negara tersebut berperan sebagai pengolah minyak mentah yang sebagian besar bahan bakunya diimpor dari Timur Tengah melalui Selat Hormuz. 

Ketergantungan pada rantai pasok tidak langsung ini menempatkan Indonesia pada posisi rentan apabila konflik berkepanjangan menghambat distribusi energi global.

Ketahanan energi maritim menjadi faktor krusial karena distribusi logistik nasional sangat bergantung pada transportasi laut.

Gangguan pasokan bahan bakar akan berdampak pada kenaikan biaya operasional kapal yang dapat mencapai 60 persen dari total biaya distribusi. 

Kondisi tersebut berpotensi memicu kenaikan harga barang pokok serta tekanan inflasi nasional yang berimbas pada stabilitas ekonomi dan ketahanan pangan.

Halaman:

Tags

Terkini