Tangerang Selatan – Sebuah ironi terjadi di lingkungan Pemerintah Kota Tangerang Selatan.
Diskusi buku “Margono Djojohadikusumo: Pejuang Bisnis dan Pendiri BNI 46”, yang seharusnya menjadi ruang refleksi sejarah dan penghormatan terhadap tokoh nasional, mendadak dibatalkan. Alasannya, ada agenda lain: audiensi dengan sebuah stasiun televisi.
Baca Juga: Proyek PSEL TPA Rawa Kucing Rawan Gugatan, P3S Ingatkan Pemkot Tangerang
Kepala Dinas Kominfo Tangsel, Tb Asep, melalui pesan resmi di WhatsApp, meminta sejumlah pejabat hadir dalam kegiatan Audiensi dengan Trans TV yang berlangsung pada Senin (8/9/2025) di Puspemkot Tangsel.
Dalam surat elektronik itu ditegaskan, agenda tersebut bersifat penting dan tidak dapat diwakilkan.
Sejumlah pejabat kunci disebut dalam undangan, mulai dari Asda II, Kepala Bappelitbangda, Kepala Dinas Pariwisata, Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Dinas Koperasi UMKM, Kepala Satpol PP, Kepala Dinas Perhubungan, hingga camat dan lurah setempat.
Baca Juga: Menkeu Purbaya soal Tuntutan 17 plus 8: Itu Suara Sebagian Kecil Rakyat
Namun, keputusan tersebut memunculkan pertanyaan: mengapa diskusi mengenai Margono—pendiri bank nasional pertama dan salah satu arsitek fondasi ekonomi Indonesia—harus kalah prioritas dibanding sebuah audiensi dengan media televisi?
“Ini soal sensitivitas sejarah dan penghormatan pada tokoh bangsa. Jika pemerintah daerah lebih memilih bertemu televisi ketimbang merawat ingatan kolektif, ada sesuatu yang salah dalam cara kita menimbang prioritas,” ujar seorang pemerhati sejarah di Tangsel.
Sampai kini, publik belum mendapat kepastian apakah diskusi tentang Margono Djojohadikusumo akan dijadwalkan ulang, atau justru dibiarkan hilang begitu saja. (***)