Inggris kembali pulang sambil menyalahkan akting lawan, bukan kelemahan mengendalikan emosi sendiri.
Empat tahun kemudian Beckham membalas melalui penalti, tetapi kemenangan itu gagal menghapus luka sejarah.
Kini, kedua negara kembali bertemu setelah penantian panjang dengan beban yang jauh lebih besar.
Argentina mengejar gelar beruntun yang hanya pernah diraih sedikit negara sepanjang sejarah Piala Dunia.
Inggris memburu final pertama sejak 1966 sambil terus membawa nostalgia sebagai modal utama.
Sayangnya, nostalgia tidak pernah mencetak gol ketika lawan memiliki kualitas setara.
Banyak pengamat meragukan perjalanan Inggris dan Argentina karena tampil kurang meyakinkan dibandingkan Prancis maupun Spanyol.
Kedua tim memang sama-sama kebobolan lebih banyak daripada kandidat juara lainnya sepanjang turnamen.
Namun, semifinal bukan panggung tim paling rapi, melainkan milik tim yang bertahan paling kuat menghadapi tekanan.
Thomas Tuchel perlahan menghapus citra Inggris sebagai kumpulan bintang yang sibuk melayani ego masing-masing.
Inggris kini bermain lebih disiplin, lebih tenang, dan jauh lebih sulit dipancing kekacauan.
Harry Kane tetap menjadi mesin gol, sementara Declan Rice menjaga keseimbangan permainan dengan konsisten.